Ketika kita memahami bagaimana pencurian identitas terjadi, penipuan dengan berbagai metode cenderung mempunyai dua kategori. Metode berteknologi rendah seperti mengorek tempat sampah dan penipuan telepon lebih mudah untuk diatasi karena mereka mengambil keuntungan dari kebiasaan pribadi korban.
Namun ketika memahami metode pencurian identitas dengan teknologi tinggi, tidak banyak yang dapat anda lakukan karena informasi pribadi dicuri dari seseorang yang anda berikan untuk tujuan bisnis (seperti membeli rumah atau mendapatkan penawaran asuransi.)
Metode Teknologi Rendah
Mencuri dompet atau pencurian data pribadi lainnya. Kasus-kasus awal dari pencurian identitas itu mungkin berhubungan dengan informasi pribadi yang diperoleh dengan mencopet atau mencuri. Ada film yang menggambarkan pencuri identitas, seperti Sommersby dan Catch Me If You Can.
Sejumlah besar kasus yang melibatkan pencurian identitas oleh anak-anak disebabkan oleh penyalahgunaan identitas orangtua yang dilakukan anak mereka sendiri, tetapi masih ada banyak kasus pelaku adalah teman atau bahkan anggota keluarga. Hal terbaik untuk dilakukan adalah menyimpan informasi pribadi dengan aman, meskipun safety box di bank masih merupakan ide bagus jika anda mampu menyewa. Tempat terburuk untuk menjaga akte kelahiran, dokumen asuransi , dll adalah di laci kanan meja.
“Mengorek Tempat Sampah” telah menjadi metode untuk yang lama tapi ini terbatas pada detektif, detektif swasta dan kadang-kadang spionase industri (seperti mencoba untuk mencari tahu siapa pesaing klien anda). Kebanyakan orang Indonesia tidak menyadari bahwa setelah membuang sesuatu di tempat sampah, anda tidak memiliki “harapan pribadi”, meskipun ada argumen hukum yang kuat dibaliknya.
Penipuan dengan menggunakan surat / Telepon / e-Mail masih dikategorikan sebagai “Low-Tech” karena mereka bergantung pada Hukum Rata rata untuk mengumpulkan informasi. Hukum Rata-Rata pada dasarnya mengatakan “Jika anda cukup sering melakukan sesuatu hal maka rasio keberhasilannya kemungkinannya akan besar.”
Di sinilah kita mendapatkan hal-hal seperti rata-rata sukses, penjualan dari pintu ke pintu. Email penipuan mungkin yang paling terkenal, karena seorang penipu dapat mengirimkan ribuan email pada satu waktu. Tapi ini benar-benar hanya teknik phishing yang membawa atau “memaksa” anda ke dalam percakapan melalui telepon, sehingga penipuan telepon adalah bahaya yang nyata.
Penipuan ini memiliki banyak nama atau istilah, tapi “phishing” adalah cara paling umum yang digunakan. Ada ratusan penipuan dalam kategori ini, tetapi mereka semua dapat dihindari dengan menggunakan cara sederhana dan masuk akal :
- Lembaga keuangan terkemuka tidak akan menghubungi anda melalui e-Mail untuk membahas masalah keuangan. Anda mungkin mendapatkan surat penawaran di e-Mail yang meminta untuk menggunakan perusahaan investasi tertentu atau mengajukan pinjaman pada bank tertentu.
- Jangan memberikan informasi pribadi melalui telepon. Jika yakin mengenal orang yang sedang menelepon pasti anda merasa cukup aman. Jika anda tidak yakin, minta nomor mereka untuk dapat ditelepon kembali. Kemudian lakukan panggilan telepon ke nomor tadi. Tanyakan apakah orang tersebut bekerja di sana untuk meyakinkan bahwa informasi yang disampaikannya adalah benar. Selain itu dengan meminta nomor telefon dapat sewaktu-waktu digunakan jikamemang harus dilakukan pelacakan terhadap orang yang diduga melakukan penipuan oleh pihak berwenang.
- Jangan biarkan seseorang mengulangi nomor kartu kredit anda melalui telepon, meskipun begitu biarkan dia tahu anda akan membaca nomor dua kali untuk verifikasi.
Ini sebagian metode teknologi rendah yang mungkin atau mungkin tidak menjadi bagian dari “Lingkaran Pencurian Informasi”. Kegiatan tersebut dilaksanakan jaringan individu yang “merekrut” pencuri identitas yang memiliki akses ke informasi. Sebagai contoh, seseorang mungkin mendekati pelayan di sebuah restoran dan menawarkan Rp 100 Ribu untuk setiap nomor kartu kredit yang bisa dia curi. Yang dapat dilakukan saat membaca kartu kredit anda dan kebanyakan orang tidak melihat ketika itu terjadi.
(www.permatabank.net)


